Aku menulis apa yang aku rasa. Aku membaca apa yang aku ingin tahu, lalu inspirasi muncul dan aku menulisnya disini. Aku memang tidak seperti Dwitasari, yang menulis tentang kegalauan-kegalauan perasaan cintanya. Aku juga tak seperti Bernard Batubara yang menulis cerpen-cerpen yang luar biasa, salah satunya "Senja di Jembrana" yang kemudian dia bukukan dalam kumpulan cerita "MILANA". Aku juga tak seperti bang Dika, ya dia salah satu penulis favoritku setelah bang Tere Liye, selera humor di bukunya itu lho yang ngebuat penikmat bukunya ngakak sampai gulung-gulung (sory agak lebay). Bang Dika memberikan nuansa baru dalam dunia novel. Kemudian tulisan-tulisan yang aku post di blog ini kebanyakan adalah pengalaman pribadi, tetapi ada juga yang bener-bener fiksi, atau ada juga yang setengah fiksi (red: terinspirasi pada pengalaman pribadi). Aku baru belajar menulis sebenarnya, mulai suka menulis sewaktu masih usia SD. Saat itu aku menggandrungi puisi, tapi sekarang puisi-puisiku itu entah kemana. Hingga saat hari perpisahan sewaktu kelas VI aku ditunjuk untuk membuat puisi tentang pengabdian guru yang akan dibacakan oleh teman-temanku (Manda, Bella, Ibrahim, dan Andri). Aku mulai menekuni puisi lagi saat aku usia SMP. Lebih tepatnya SMP kelas VIII, aku sampai memiliki buku sendiri khusus berisi puisi, tapi bukunya sekarang aku tidak tahu berada dimana. Sayang sekali, padahal jika ada aku bisa menuliskannya disini. Aku mendapat banyak dukungan untuk menulis puisi dari teman-teman. Tapi tak kukembangkan, aku bisa menulis puisi, tetapi tidak terlalu pandai menulis puisi. Perbendaharaan kataku masih itu-itu saja. Perlu membaca beberapa buku terlebih dahulu sebelum menulis. ya tentu saja membaca sangat membantuku dalam membuat tulisan. Sekarang aku jarang menulis puisi, lebih sering menulis tulisan seperti yang ada di blog ini. Kalau kata temanku tulisan-tulisan ini mereka namakan curhatan. ya memang benar sih, ini memang curhatan yang ditulis dengan model tampilan yang agak berbeda. Mungkin lebih menyenangkan dibaca daripada hanya sebuah curhatan saja. Sebenarnya lagi masa-masa pengen buat novel, tapi moodnya belum ada lagi. Dari Juni 2013 lalu baru dapat 10 halaman dan belum nambah-nambah. Mungkin perlu nyari inspirasi dulu kali ya? Iyadeh besok nyari dulu. Mungkin itu aja tentang sekilas tulisan-tulisan di blog ini. Mungkin kurang memberi manfaat karena blog ini kurang berisi informasi yang membangun. Tapi setidaknya bisa menghibur lah ya. Oke terimakasih :).
Senin, 27 Januari 2014
Rabu, 15 Januari 2014
Ngakunya Mahasiswa???
![]() |
| Jangan Nyontek!! |
Aku tidak membenci kalian wahai teman-teman yang ngakunya mahasiswa, aku hanya kecewa. Apalagi kalian calon pendidik. Calon pembentuk karakter bangsa. Aku turut prihatin atas matinya rasa tanggung jawab kalian. Bukan aku merasa sok suci, tapi aku benar-benar malu jika harus mencontek. Aku sadar aku anak orang biasa, aku sampai bisa kuliah pun butuh usaha. Tak seperti kalian, dari situlah aku mengerti. Aku bisa membahagiakan kedua orang tuaku hanya dengan berlaku jujur agar kelak aku mendapat hasil yang maksimal. Ya, aku percaya aku bisa. Sebenarnya aku dan kalian sama, sama-sama belajar. hanya saja cara berpikir kita berbeda. Aku selalu memikirkan bagaimana caraku mendapat nilai bagus dengan otakku, tapi kalian? selalu memikirkan bagaimana cara untuk mendapat nilai bagus tapi tak ada usaha belajar. Aku yakin kalian bisa, hanya saja kalian kurang percaya diri :). Mau sukses tapi tidak mau susah, tidak mau usaha belajar :D.
Untuk Teman-Temanku yang Ngakunya Mahasiswa di Ruang I.4.11 saat ujian Dasar-Dasar Kurikulum hari Rabu, 15 Januari 2014
Kamis, 09 Januari 2014
Teman Kecil (Waktu Masih Berseragam Putih Merah)
Haha, malam ini mungkin gelak tawa yang akan aku tulis. Tulisan ini mungkin tak seperti judulnya, teman kecil? tapi benar juga sih, dia teman kecilku, teman sewaktu sekolah dasar lebih tepatnya. Tapi mungkin bukan cerita mengenai persahabatan. Lalu? Dia adalah cinta monyetku sewaktu aku masih berseragam putih merah. Dia teman sejak aku di taman kanak-kanak, kalian tahu? aku menulis ini sembari tertawa. Hari ini, lebih tepatnya barusan aku bertemu dengan anak tengil itu, sebenarnya dia tidak ganteng, tidak juga kharismatik, aku juga tidak tahu mengapa dulu aku bisa suka dengannya. Tapi tunggu, dulu aku suka dengannya sewaktu aku belum tahu apa itu cinta pastinya, haha.
![]() |
| Sama Kayak Monyet :D |
Sekarang, dia berbeda sekali, tapi tetap saja pendek dan keriting. Tetapi matanya tetap seperti dulu, kalau kata orang mungkin "sipit". Aku tak henti-hentinya tertawa, memori masa kecil beberapa tahun lalu tiba-tiba muncul, saat matanya memandangiku, haha. Lagi-lagi seperti orang yang tak pernah saling mengenal, kami hanya diam. Tunggu, jangan dihayati ceritaku ini, ini bukan kisah sedih seperti cerita-ceritaku sebelumnya, jadi kalian tak perlu mempersiapkan tisu, haha. Tadi dia melihatku lama sekali, mungkin dia heran mengapa si buruk rupa seperti aku pas gedenya lumayan unyu juga (pliss jangan muntah) :D. Banyak cerita sebenarnya antara aku dan dia, mulai dari dia datang ke rumahku karena aku bolos les (baca dia berusaha jemput aku dan ngajak aku buat g bolos les), trus dia ngejar-ngejar aku memakai sepedanya yang berwarna pink (ga kece, masak cowok sepedanya pink) :D, sepedanya itu juga pernah aku gemboskan bannya :D, lalu bunga itu, bunga yang dia berikan saat pulang belajar kelompok. Bukan bunga mawar, tetapi bunga apa itu namanya aku juga tidak tahu, bunga hasil mencuri di halaman rumah tetangga temanku. Haha, perutku sakit. Kalian pasti tidak tertawa, karena lucu menurutku, belum lucu menurut kalian bukan? Kemudian saat aku dan teman-temanku menjenguknya saat dia sakit, dan Saputro (teman dekatnya yang juga teman kami satu kelas yang sudah meninggal), dia selalu mencoba menyatukan aku dan dia, tapi tunggu, menyatukan? bahasanya terlalu resmi, tapi biarlah, haha. Lalu saat aku ujian praktek sholat di kelas 6, kami dikunci di kamar mandi dari luar, siapa lagi kalau bukan perbuatan Saputro. Aku coba-coba ingat, apa lagi ya kejadian aneh di waktu sd denganmu? o iya, saat kita main petak umpet, lalu aku iseng bilang "Ini bungabuat kamu Andri (sambil gaya-gaya bawa bunga)", dan ternyata dia beneran datang di hadapanku. Untung saja dia tak melihatku saat aku seperti itu, :D. Lalu saat aku diboncengkannya dengan sepeda pinknya, itu romantis sekali :D.Dulu jaman aku kecil belum ada handphone, jadi komunikasinya dengan surat-menyurat, itu adalah pengalaman yang lucu sekali, 4 tahu lho, dan bubar begitu saja saat kami mulai masuk SMP, tanpa ucapan kata-kata apapun, bahkan kata-kata sayang apapun. Namanya juga cinta monyet :D.
Ah aku rindu masa-masa itu. Saat aku belum tahu apa itu cinta. Saat aku belum tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan dia, aku seperti mengikuti arah, padahal aku tak tahu dimana arah itu akan bermuara. Apa kau juga masih ingat? :D, jangan lupakan masa-masa itu, aku selalu tertawa saat mengingatnya, terlebih tadi saat sekian lama aku tak bertemu denganmu lalu tiba-tiba kita bertemu, haha. Tiba-tiba otak seperti masuk pada ruang waktu 10 tahunan lalu. Sekarang kamu unyu, tapi tetep lebih unyuan aku :D.
Beberapa Tahun Lalu
23.30
9 Januari 2014
Rabu, 08 Januari 2014
8 Januari Bersama Kalian
Lelap, sebenarnya mata ini ingin untuk segera terlelap, tapi tangan masih ingin memberikan tuangannya pada sebuah tulisan. 8 Januari, hari ini, ternyata bahagia tak butuh uang banyak, ternyata bahagia tak harus selalu datang dari seseorang yang mungkin sering kita sebut "kekasih", dan bahagia ternyata begitu sederhana, saat gelak tawa menjadi ukuran kebahagiaan, saat gelak tawa menjadi sebuah ukuran untuk menandakan bahwa orang itu "senang", mungkin pendapat itu benar, tapi mungkin juga pendapat itu bisa salah. Namanya juga pendapat.
![]() |
| Aku dan Kalian |
Hari ini, akan menjadi hari terindahku di awal tahun ini. Kalian tahu? Allah selalu memberiku kebahagiaan di awal tahun, selalu. janji Allah tak pernah salah bukan? Meski bukan dengan orang yang aku cintai dan mencintaiku. Tetapi merekalah yang aku sayangi dan mereka menyayangiku, dan kalianlah yang aku sebut teman, teman yang selalu mengulurkan tangan saat kita terjatuh, tapi tunggu, kadang kalian juga teman yang tertawa ketika melihatku jatuh dari tangga, ya itu lucu, kalian bisa membedakan mana yang harus ditertawakan dan mana yang harus kalian berikan sebuah uluran tangan, kalian tahu? selain aku bahagia hari ini dengan kalian? aku bersyukur bisa bertemu dan berteman dengan kalian. Lalu, apa kalian tahu? Hal yang sangat membuatku bahagia? Kalian nyaman berteman denganku :).
Aku dan Kalian
00.19 WIB
9 Januari 2014
Jumat, 03 Januari 2014
Senja di Stasiun Tugu
![]() |
| Stasiun Tugu, 3 Juli 2011 |
Aku tak tahu lagi kabarmu setelah itu, setelah dering panggilan terakhir dari nomormu berakhir, kau tahu? semua terasa sesak, menyeruak, lalu ingatan-ingatan tentangmu kembali muncul, saat kau ketakutan di rumah hantu, saat kau kepedasan makan nasi goreng, saat kita buka puasa bersama, saat kita pulang sekolah, saat kita berteduh di bawah pohon di depan sekolahku, saat merayakan hari ulang tahunku, saat aku menangis di pelukanmu, dan saat aku menghabiskan sehari penuh denganmu di Jogja. Terkadang aku rindu, hanya terkadang, tak ku hiraukan rindu-rindu itu, aku tak ingin semua menguar terlalu dalam.
Senja itu. Senja 3 Juli 2011 di stasiun Tugu, di saat orang-orang berlalu lalang dengan kesibukkan, di saat ibu-ibu tua masih menjajakan dagangannya, dan disaat tukang becak masih menanti penumpang. Tangan kita terpaut, menunggu kereta yang akan membawa kita pulang, membawa janji yang pernah kau ucapkan, kau tahu? aku merasa istimewa, aku merasa menjadi perempuan yang paling berbahagia, aku menikmati senja denganmu, di kota istimewa ini, Jogja, kota penuh kenangan, kota yang kau jadikan sebagai tempatmu meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi, kota impianku, kota impian kita (dulu). Kereta itu membawa kita pulang, prameks. dua jam perjalanan. Kita meninggalkan Jogja, kita meninggalkan malioboro, kita meninggalkan stasiun Tugu, dan kita meninggalkan sebuah kenangan, mungkin kau tak ingat, tapi entah mengapa aku masih ingin mengingatnya. Aku tak pernah menyesal mengenalmu, sekalipun kau tak pernah melihat bahwa aku adalah bagian dari masalalumu. Aku suka Jogja, dari dulu, lalu senja bersamamu di Stasiun Tugu membuatku lebih mencintai Jogja. Entah, kota itu selalu indah, apalagi Malioboro yang menjadi teman kita saat aku dan kamu berjalan menyusurinya, saat senja, saat semua menguar, saat janji aku dan kamu untuk saling menjaga. Saat itu juga senja mengamini. Tapi mungkin tidak untuk Allah :).
Aku Rindu Menikmati Senja Bersamamu
19:09
3 Januari 2014
Senin, 30 Desember 2013
Dandelion
Dandelionku, begitu aku memanggilmu. Senyummu selalu mengembang saat aku memanggilmu dengan sebutan itu. Kau seperti bunga dandelion, bunga liar yang kuat, bunga liar yang tetap hidup meski tumbuhan lain telah mati. Dandelion akan tetap hidup selama sinar matahari tetap menyinarinya, seperti kau yang senantiasa memanggilku matahari, ya aku yang membuatmu tetap hidup, kau pernah mengatakan jika akulah cahaya matahari itu, yang senantiasa menemanimu, membuatmu semakin kuat, membuatmu semakin tumbuh dengan pucuk-pucuk rinai kibasan setiap helai dandelion yang gugur. Kau mengatakan bahwa aku juga yang senantiasa membuatmu semakin kuat dandelion, di sela-sela batu, di pinggiran rel kereta api, di bongkahan-bongkahan batu berpasir, dan di sela-sela padang ilalang, kau bisa tumbuh dimana saja asal ada aku.
Dulu aku menemukanmu, diantara rintik hujan, kau menangis dandelionku, kau begitu berbeda dengan dandelion yang selalu ku lihat sekarang. Raut wajahmu menunjukkan kau lelah, tak seperti dandelion, kau peluk kedua lututmu dengan tangan menelungkup. Aku terduduk tepat di depanmu, memandangimu, aku tak tahu harus melakukan apa, aku tak mengerti apa yang harus aku lakukan. Kau terus menangis, kau tak menyadari kehadiranku, rintik hujan mulai tak berjarak, terus membasahi bunga dandelionku. Kau nampak terluka, kau nampak rapuh, Sedang apa kau disini? Aku memberanikan diri bertanya, perlahan kau angkat mukamu, sendu, wajah yang sendu, raut penuh luka, raut penuh harapan, raut yang polos, rintik hujan tak mampu menerobos derai air mata itu, lampu temaram juga tak mampu menghalangi mataku untuk bisa melihat jelas wajahmu. Kau tiba-tiba memelukku, entah aku tak mengerti, mungkin kau menemukan tempat yang teduh dimataku, kau sesenggukan di pundakku, kau memeluk erat pundakku. Aku bingung, aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Lirih kau berkata "mengapa tak pernah ada yang tulus?", aku mendongak, hujan menusuk mataku, pedih, aku memelukmu erat, berkata pelan, lirih, bahkan seperti samasekali tak terdengar "Mengapa tak ada yang bisa menerima ketulusanku?", kau melepaskan pelukanmu, perlahan, lalu menatap mataku. Kau menatap mataku lekat. Lirih kau bertanya "Kamu kenapa?". Aku tak apa-apa, lirih suaraku menjawab, hujan terus membasahiku, aku tak peduli, aku tak merasakan rintik hujan ini perlahan semakin menusuk pundakku.
"Aku tak mengerti mengapa dia tega meninggalkanku, aku tak mengerti mengapa dia memutuskan untuk tiba-tiba pergi, aku selalu seperti ini, mungkin belum takdirku bertemu dengan matahariku", kali ini kau berkata sambil menatap kosong lampu taman, sejak pertemuan malam itu, kita menjadi sering bertemu, bahkan hanya sekedar untuk jalan-jalan.
"Aku juga tak mengerti, mengapa ketulusanku selalu tak berarti", kataku sambil menatap wajahmu yang masih menatap kosong lampu taman, kau tersenyum, itu pertama kalinya aku melihatmu tersenyum setelah pertemuan pertamaku denganmu, setelah satu tahun kejadian malam-malam di bawah rintik hujan kau menangis sambil memelukku berlalu.
"Mungkin kita belum bertemu dengan orang yang tak tau rasanya luka", kau menatapku, membuatku cepat-cepat memalingkan muka agar aku tak ketahuan kalau aku suka mencuri-curi waktu untuk memandangimu.
"Bukan begitu matahariku?", kau tertawa menampakkan gigimu yang rapi, kau berlari meniup bunga-bunga dandelion di taman itu. Entah darimana datangnya, kunang-kunang mengelilingimu, tepat diatas kepalamu, seraya bunga dandelion berguguran, kau tampak gembira, ku lihat dari kursi taman ini, aku tersenyum, hangat. Senyum lepasku juga setelah satu tahun terakhir aku masih berkutat dengan cinta lamaku.
Entah semua berawal darimana, mulai saat itu, setelah lampu taman itu mulai mati secara otomatis, kau menjadi dandelion dan aku mataharimu. Katamu "Kau yang membuatku hidup kembali, kau yang mampu mempertahankan dandelion hingga bunganya yang berguguran menjadi tumbuh dengan kuncup yang putih".
Untuk Kamu Matahariku
22.33 WIB
30 Desember 2013
Minggu, 29 Desember 2013
Aku Menjadi Temanmu Hanya Ketika Kau Bersedih
Aku menjadi temanmu hanya ketika kau sendiri, aku menjadi temanmu hanya ketika kau sedih, dan aku menjadi temanmu hanya ketika kau sedang terluka. Aku tak mempermasalahkan itu, aku pun selalu menerima saat kau datang padaku hanya saat hatimu terluka. Aku adalah bagian dari masalalumu, aku hanya bagian dari sesuatu yang pernah kau sentuh, jangan tanyakan apa aku masih menautkan rasaku utnukmu, tentu saja tidak, semua telah hilang beberapa tahun lalu, semua telah hilang dan yang tertinggal hanyalah sebuah perasaan untuk tetap menjalin sebuah hubungan pertemanan. Aku ingin kau juga membutuhkanku saat kau senang, aku juga ingin kau membutuhkanku saat kau tertawa, aku juga ingin kau tertawa bersamaku, sebagai seorang teman lama yang kembali hadir dalam kehidupanmu. Tapi kenyataannya kau hanya membutuhkanku saat kau ditnggalkan orang yang begitu kau banggakan, bukan hanya sekali, tetapi berulang-ulang, aku bosan ketika kau pura-pura tak mengenalku saat kau telah temukan cintamu kembali, aku bosan saat kau tak peduli jika aku sedang membutuhkan seorang teman untuk sedikit berbagi tentang masalah yang aku hadapi. aku benci dengan kepura-puraanmu, aku benci semua sikapmu.
Seperti siang itu, hanya sebuah basa-basiku untuk membuatmu bicara, tapi lagi-lagi kau seperti tak mengenaliku, acuh, apa maksudnya? aku tak pernah tau apa maksudmu, aku juga tak pernah mengerti mengapa kau begitu angkuh, mungkin telah kau temukan cintamu yang baru (lagi), entah dia yang keberapa kalinya untukmu. Aku bosan mendengar setiap cerita disaat kamu sendiri seperti 3 bulan lalu, hampir setiap ceritamu sama, mereka tak menerima kekuranganmu, aku turut sedih, aku turut merasakan lukamu, tentu saja karena aku pernah merasakan apa yang kamu rasakan saat aku denganmu dulu. Sudahlah, kenapa aku jadi membahas cerita tentang kita (dulu), itu samasekali tak ingin ku ingat, dan yang aku ingat adalah kita teman, kita teman yang saling melengkapi. Aku pernah berpikir kenapa kau cepat sekali menemukan cinta yang baru? lagi-lagi jangan tanyakan apa aku cemburu? tentu saja tidak, aku hanya mengingatkan, aku selalu mengingatkan, jangan terlalu cepat jatuh cinta. Tapi mungkin kata-kataku hanya angin lalu bagimu, aku siapa? bukan siapa-siapa, orang yang penting? mungkin bukan, setelah lama aku berpikir, sekarang aku mengerti, aku selalu terganti dengan cintamu yang baru, aku teman yang selalu terlupakan saat cintamu hadir, aku teman yang tak kau kenal ketika kau bahagia, aku selalu mendoakanmu, aku selalu berharap yang terbaik untuk hubungan cintamu, dengan siapapun perempuan itu, aku selalu memohon, agar kau tetap bahagia, karena jika kau bahagia kau tak akan lagi mengingatku. sedangkan jika kau bersedih kau kembali mengingatku, lebih baik benar-benar hilang dari hidupmu daripada menahan luka karena merasa tidak kau anggap ada saat kau bahagia. Aku bahagia dengan hidupku, dengan atau tanpa kamu.
Untuk Teman yang Dulu Pernah Menyentuh Hidupku
20.52 WIB
29 Desember 2013
Selasa, 24 Desember 2013
AKU
1. Aku menjadi sangat suka dengan suara kereta yg sdng melintas, entah mengapa
sprti mengingatkanku akan sesuatu, apalagi saat kudengar suara kereta
lewat saat jam 3 pagi, saat aku dan teman2 sholat Lail.
2. Aku meliht senja sore itu, langit d tgl 16 Mei 2013, indah, indah sekali, jingga, biru yg mulai meredup karene mendung.
3. Aku merasakan hujan, ya hujan pertama disana, lebat, sejuk, dan meneduhkan.
4. Aku merasakan kebersemaan, benci, bahkan tidak suka dengan teman karena sebuah sikap yg menurutku "aneh", egois memang :).
5. Aku masih suka dgn bntang2 mlm itu, lngit 15 Mei, cantik, bulan sabit menggantung diatas kepalaku, dekat dn ingin ku gapai.
6. Aku melihat 3 nama di buku "studi islam II ku"ah buku itu lagi2 membuatku mengingat mereka. Ibnu, Rikas, Imam. Tapi apa kalian tau? Nama Imam di baitul arqam ini dimana mana ada, bahkan stiap hri aku harus melihat dan mengucapkan kata itu, mulai dari fasilitator yg brnama Imam, sbtan untuk pementor "Imam Training dn Co Imam" dan nama2 di jadwal, selalu ada nama itu.
7. Aku menghapus nama itu disetiap lembar demi lembar buku, ya aku akan melupakannya :).
8. Aku baru sadar jika mereka begitu perhatian deganku, iya mreka, teman2ku, ada Chrismeina, asih, indri, nurul, tia, wening, nur, nila, azmi, desti, riyana, wahyu, titis, hanif, dn masih bnyk lagi.
9. Aku melihat wajah perempuan itu, hampir sama seperti wajah orang yg menjadi kekasihnya sebelum aku, dan yang sekarang sedang di impikannya untuk kembali dengannya. Mahasiswi ekonomi, Heni mamanya, lumayan akrab denganku.
10. Aku ingat, jika tgl 15 kemarin ultah tiwi, sahabat kecilku, dan hri ini, 17 Mei 2013, ulang tahun diyah, sahabatku juga. Maav karena aku mengucapkan tak seperti biasanya.
11. Aku selalu membawa boneka kura2ku, ya itu bneka hadiah 17 tahunku, manis, lucu dari seorang yang sempat berarti di hidupku, Rikas.
12. Aku senang, aku bisa tertawa dengan mereka, iya teman2ku, mereka unik.
13. Aku dan Chris, hampir setiap pagi dan sore selalu berebut untuk antre kamar mandi.
14. Aku disana susah puppy, gatau kenapa :D.
15. Aku selalu melihat jingga di bawah hitam, ya itu langit indah setelah sholat subuh.
16. Aku suka memandang lampu dari lantai 2, lampu under pass itu, orange, sama seperti senja.
17. Aku harus mendengar cerita yang seram, tentang hantu di asrama D, sempat takut, tapi tak terlalu kupikirkan.
18. Aku paling suka saat malam, saat ingin beranjak tidur, harus bermain dengan teman2 dulu, bercanda dengan mereka, curhat tentang seseorang, seru sekali.
19. Aku suka makanan disini, jauh beda dgn baitul arqam pertama, jika dulu makan hari makin g enak, kalau baitul arqam 2 makin hari makin enak, hampir setiap hari ayam dan telur.
20. Aku merasa kehilangan setelah pulang tadi, ya karena besok tak lagi kutemui suasana seperti ini.
17 Mei 2013
7.20 p.m
2. Aku meliht senja sore itu, langit d tgl 16 Mei 2013, indah, indah sekali, jingga, biru yg mulai meredup karene mendung.
3. Aku merasakan hujan, ya hujan pertama disana, lebat, sejuk, dan meneduhkan.
4. Aku merasakan kebersemaan, benci, bahkan tidak suka dengan teman karena sebuah sikap yg menurutku "aneh", egois memang :).
5. Aku masih suka dgn bntang2 mlm itu, lngit 15 Mei, cantik, bulan sabit menggantung diatas kepalaku, dekat dn ingin ku gapai.
6. Aku melihat 3 nama di buku "studi islam II ku"ah buku itu lagi2 membuatku mengingat mereka. Ibnu, Rikas, Imam. Tapi apa kalian tau? Nama Imam di baitul arqam ini dimana mana ada, bahkan stiap hri aku harus melihat dan mengucapkan kata itu, mulai dari fasilitator yg brnama Imam, sbtan untuk pementor "Imam Training dn Co Imam" dan nama2 di jadwal, selalu ada nama itu.
7. Aku menghapus nama itu disetiap lembar demi lembar buku, ya aku akan melupakannya :).
8. Aku baru sadar jika mereka begitu perhatian deganku, iya mreka, teman2ku, ada Chrismeina, asih, indri, nurul, tia, wening, nur, nila, azmi, desti, riyana, wahyu, titis, hanif, dn masih bnyk lagi.
9. Aku melihat wajah perempuan itu, hampir sama seperti wajah orang yg menjadi kekasihnya sebelum aku, dan yang sekarang sedang di impikannya untuk kembali dengannya. Mahasiswi ekonomi, Heni mamanya, lumayan akrab denganku.
10. Aku ingat, jika tgl 15 kemarin ultah tiwi, sahabat kecilku, dan hri ini, 17 Mei 2013, ulang tahun diyah, sahabatku juga. Maav karena aku mengucapkan tak seperti biasanya.
11. Aku selalu membawa boneka kura2ku, ya itu bneka hadiah 17 tahunku, manis, lucu dari seorang yang sempat berarti di hidupku, Rikas.
12. Aku senang, aku bisa tertawa dengan mereka, iya teman2ku, mereka unik.
13. Aku dan Chris, hampir setiap pagi dan sore selalu berebut untuk antre kamar mandi.
14. Aku disana susah puppy, gatau kenapa :D.
15. Aku selalu melihat jingga di bawah hitam, ya itu langit indah setelah sholat subuh.
16. Aku suka memandang lampu dari lantai 2, lampu under pass itu, orange, sama seperti senja.
17. Aku harus mendengar cerita yang seram, tentang hantu di asrama D, sempat takut, tapi tak terlalu kupikirkan.
18. Aku paling suka saat malam, saat ingin beranjak tidur, harus bermain dengan teman2 dulu, bercanda dengan mereka, curhat tentang seseorang, seru sekali.
19. Aku suka makanan disini, jauh beda dgn baitul arqam pertama, jika dulu makan hari makin g enak, kalau baitul arqam 2 makin hari makin enak, hampir setiap hari ayam dan telur.
20. Aku merasa kehilangan setelah pulang tadi, ya karena besok tak lagi kutemui suasana seperti ini.
17 Mei 2013
7.20 p.m
Mereka dan Bahagianya yang Sederhana
Tuhan, lihatlah kaki mereka, kaki yang kuat, kaki yang penuh urat, kaki yang tebal karena jalan setapak, lalu Tuhan? Lihatlah beban di punggungnya. Tua, muda, bahkan anak2, mereka yang kurang dalam ilmu, tapi mereka yang lebih pada syukurMu.
Tuhan, aku menangis, ketika tangan2 kecil itu menyambut uluran tanganku, menyambut kedatanganku, kedatangan kami.
Tuhan, lihatlah saat tangan2 mereka terangkat penuh harap, penuh suka cita menyambut sebuah buku tulis, sebuah pakaian, lihatlah kaki2 kecil mereka saat menahan dingin kabut, saat harus menyesuaikan keadaan dgn fisik, saat harus menopang walau sebenarnya tak harus mereka lakukan.
Tuhan, mereka tak meminta lebih, mereka hanya ingin bahagia dgn sederhana, mereka hanya ingin kaki dan tngannya berguna, mereka tak mengeluh, tak pernah mengeluh, walau jauh, walau susah, walau sulit dari yg biasa kami keluhkan.
Lihatlah tatap mata mereka Tuhan, ketulusan, keinginan, harapan yg ingin mereka wujudkan.
Aku ingin mereka selalu tersenyum, walau terbatas, walau sulit.
Kaki2 kecil mereka Tuhan, kelak akan melangkah, kelak akan membuat kebanggaan untuk mereka.
Terimakasih untuk pengalaman dan indahnya dunia yg Kau ciptakan :).
Bersama keluarga keduaku, HMP PBSID
30 Nov - 1 Des 2013.
Tempel, Jrakah, Selo, Boyolali.
Mungkin Aku Menjadi Perempuan yang Paling Berbahagia
Sore itu, saat orang-orang melepas lelah, saat orang-orang menghentikan aktivitas mereka untuk sejenak bertafakur padaNya, tapi jalan tetaplah ramai seperti alunan musik di hatiku, tak henti, terus mengalun. aku sudah bertafakur beberapa menit lalu. Aku menatap langit, bintang bertebaran, bulan menggantung seperti lampu lampion pada perayaan imlek. Aku baru ingat jika aku harus pergi menemuimu, senyumku mengembang, rasaku membuncah, detik ini juga musik di hatiku mengalun lebih cepat dan tak beraturan, mungkin musik rock, bukan sebuah musik melankolis. lampu-lampu menyambut kemerlap hati kami yang sama-sama dibuncah oleh perasaan yang tak menentu.
Dari kejauhan tampak laki-laki dengan kharismanya, dia tidak terlalu tampan, apakah hal seperti itu masih dipermasalahkan pada saat ini? Tidak. Laki-laki dengan jacket merah, tersenyum, menyapa, manis sekali, aku sulit mendeskripsikan sebuah rasa yang tiba-tiba hadir, rasa yang lain. Kamu banyak bercerita, aku suka saat mata kita beradu, saat kita saling duduk berhadapan tanpa ada sepatah kata apapun, aku dan kamu hanya melempar senyum, melempar pandangan yang begitu lekat, orang yang tak tahu pun pasti mengira aku dan kamu adalah orang yang aneh. aku tak menghiraukan hal itu, aku tak peduli. Aku menyusuri raut mukamu, memohon, aku ingin kamu yang selalu memberiku kata "aku selalu ada di sini buat kamu". Mungkin malam ini aku menjadi perempuan yang paling berbahagia, satu minggu yang lalu kita saling berjanji untuk saling menjaga, saling menyayangi, dan saling percaya. Aku menyayanginya, sungguh.
Kamu menatapku lebih lekat, tanganku terpaut dengan jemari tanganmu yang sekarang masih bisa kurasakan ketulusan yang mengalir di dalamnya, aku tak mampu menengadah lagi, aku percaya.
Kamu menatapku lebih lekat, tanganku terpaut dengan jemari tanganmu yang sekarang masih bisa kurasakan ketulusan yang mengalir di dalamnya, aku tak mampu menengadah lagi, aku percaya.
Aku dan Kamu
31 Januari 2013
Langganan:
Postingan (Atom)



2.jpg)
